Tulisan

Suara Hati Jakarta 4 November 2016

Sunday, 6th November 2016

Aksi Damai 4 November 2016Saat itu Jum’at 4 November 2016, ketika umat islam dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di Jakarta dalam rangka menyuarakan haknya untuk menuntut Basuki Cahaya Purnama diadili, atas insiden penistaan kitab suci Al Qur’an, di Pulau Seribu.
Kali ini saya sempatkan untuk menulis disaat hati kecil saya redup redam dengan keadaan yang semakin riuh ramai, penuh sesak dan menyakitkan, menyayat hati, bahkan rasanya hanya air mata yang dapat berkata untuk kejadian ini.
Jakarta 4 November 2016, seiring aksi ini yang didukung oleh ratusan ribu umat islam se Indonesia, ada pula yang tidak mendukung aksi ini, ada yang abstain, diam tanpa komentar, dan juga banyak yang diam, saya masuk pada barisan yang diam namun tetap mendukung dan mendoakan mudah-mudahan semua usaha rekan-rekan seagama, para alim ulama yang bersatu padu mendapatkan hasil yang maksimal, mencapai apa yang dituntut dan diharapkan kita semua, pada saat 4 November itu saya tetap memantau kejadiannya melalui media, dan dalam sesekali dada saya terasa sesak, ingin rasanya bergabung dalam kegiatan itu.

Ustad Felix SiauDalam kegiatan yang luar biasa mulia itu, banyak pula umat islam yang mencibir, berkomentar negative bahkan mungkin mencelanya, saya gagal paham pada hal ini, segagal-gagalnya, ternyata ada yang bisa melihat aksi para ulil amri yang seharusnya menjadi panutan malah mencibirnya, dan dia seorang islam, dalam hal ini saya tidak membahas masalah “ah kamu islam KTP”, “ah kamu islam-islaman”, bukan pada ranah itu, namun lebih kepada keyakinan dan hati kita masing-masing, yakin hati kita tidak tersentuh saat kita melihat seorang ulil amri terpuyuh-puyuh bahkan masuk rumah sakit karena terkena gas air mata, ini yang membuat dada saya langsung sesak dan mata berkaca-kaca.

Arifin Ilham

Syech Ali Jaber terkena gas air mataDan bila masih ada seorang muslim yang masih membela orang yang telah menghina Al Qur’an entah dengan dalih apapun, maka itu yang disebut dengan “manusia hidup tapi mati”, jasadnya hidup tapi hatinya mati, mengapa? Sudah jelas barisan ulil amri berdiri menentang, sudah jelas MUI mefatwakan, lalu butuh apa lagi? Jikalau fatwa MUI saja masih dinyatakan tidak benar, lalu mau berpijak kepada siapa islam kita?

Logika? Hanya pabrik lampu yang tau makna warna merah, kuning dan hijau saja pada lampu lalu lintas, lalu jika ada orang nyerobot pada saat lampu menyala merah, dengan dalih diatas, maka itu dibenarkan? masih mau berlogika? Banyak analogi yang mengarah kepada hal-hal itu.
Kembali kepada 4 November, adala sebuah aksi yang menyatukan warna warni umat islam, tidak ada pandang golongan, tidak ada pandang warna jas, ras, melebur menjadi satu kekuatan yang luar biasa, itulah hakikat ukuwah Islamiyah, makna hakiki dari keislaman, yang pula menjadi sebuah simbol bangsa yang luhur ini, Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Habib RizieqSangat disayangkan saat itu RI 1 tidak menemui pendemo, padahal jika RI 1 bertemu dengan pendemo maka itu akan meningkatkan kepercayaan rakyat kepada beliau, beliau lebih memilih melihat proyek-proyek yang sedang dikerjakan, menjalankan sebuah agenda negara, negara yang milik rakyat, dari, oleh dan untuk rakyat, itu juga saya gagal mikir, memang itu hak RI 1, namun dikala ratusan ribu rakyat yang memilihnya ingin menemuinya, beliau malah sibuk dengan proyek-proyeknya, saya jadi ingat kata-kata Bapak Proklamator kita, bahwa “Saya adalah presiden Indonesia… penyambung lidah rakyat”.
Merunut pada hal diatas, salah satu penyebab RI 1 tidak bisa menemui pendemo adalah karena dari kontak dengan PASPAMPRES kondisi di istana sedang tidak aman, sehingga RI 1 tidak bisa kembali ke istana, namun jika kita telaah lebih jauh, istana punya hally pad atau lapangan mendaratnya hellycopter, harusnya fasilitas itu bisa menjadi satu alternatif RI 1 untuk bisa kembali ke istana dan menemui pendemo, saya yakin jika hal itu dilakukan maka itu akan menjadi sebuah titik tenang masa pada saat itu.
Aa GymSangat disayangkan pada aksi yang mulia tersebut terjadi hal-hal yang memilukan, adalah ketika para ulil amri berusaha melakukan negosiasi, terjadi penembakan-penembakan gas air mata, yang menyebabkan alim ulama yang mangawal jalannya demo terkena gas air mata, dan harus dilarikan ke rumah sakit, memang aturan pemerintah membatasi demo sampai jam 18.00, namun tidak seharusnya gegabah apalagi dengan sporadis menembakkan gas air mata, saya gagal paham juga pada hal ini, padahal kemarin saya baru saja mendengar Kabid Humas POLRI berkata kurang lebih, “kita menjaga NKRI 24 dalam jam, 30 dalam sebulan dan 360 dalam setahun, tidak ada kata libur”, pada salah satu statement di radio, saya juga gagal paham pada hal ini.

Saat ini saya hanya bisa menulis, apa yang saya lihat dan rasakan, tulisan ini bukan berarti saya merasa orang islam yang paling benar, namun sebuah opini dari hati yang pilu, sedih melihat keadaan saat ini, baik dari lini pendidikan, karakter kebangsaan dan sosial budaya, mau dibawa kemana negara ini?

Bandung, 11 November 2016, pukul 22:51.
M. Awaludin.
*foto diambil dari Google.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *